Begini jalannya rekonstruksi pembunuhan Farah

Selasa, 26 Juli 2016 telah digelar reka ulang kasus pembunuhan terhadap Farah Nikmah Ridhallah, resepsionis yang ditugaskan di Bank Bukopin. Si tersangka, pengusaha tua bangka, Calvin Soepargo, memperagakan beberapa adegan reka ulang.

Adapun reka ulang itu dimulai dari obrolan, hingga tersangka membunuh di kamar apartemen miliknya di Marina Mediterania, Jakarta Utara. Calvin memperagakan adegan sejak hari pertama dia bertemu dengan Farah, keduanya berkelahi karena Farah tak mau diajak berhubungan badan, hingga membuang jenazah perempuan 24 tahun itu.

“Ada 35 adegan yang diperagakan pelaku di apartemennya, di parkiran hingga membuang barang-barang korban ke sungai di daerah Gunung Sahari,” kata Kapolsek Penjaringan, Kombes Bismo Teguh di Apartemen Marina Mediterania Tower B, Selasa, 26 Juli 2016. (Lihatlah 50 Foto Natasha Wilona ukuran besar hanya di Infoheboh.com)

Diberitakan Tempo.co, Calvin dan Farah bertemu pertama kali di Apartemen Marina Mediterania, Jakarta, pada 8 Juli malam. Calvin membayar Farah untuk berhubungan badan dengannya selama sehari penuh seharga Rp 4 juta. Namun, pada siang keesokan harinya, Farah tak mau lagi diajak berhubungan badan dan mengatakan pria 42 tahun itu mengalami ejakulasi diri. Naik pitam, Calvin menghabisi nyawa Farah.

Bismo mengatakan selama reka ulang Calvin hanya tertunduk dan mengikuti instruksi petugas untuk merekonstruksi kejadian pembunuhan tersebut. “Di adegan ke-16, pelaku mulai membunuh korbannya, memukulnya dengan balok kayu hingga korban terjatuh,” katanya. (Lihatlah Foto-foto Winny Putri Lubis sedang mandi dan pose lainnya  hanya di Infoheboh.com)

Dalam reka ulang tersebut, menurut Bismo, Calvin memperagakan adegan ketika korban sempat melawan. Melihat korbannya meronta-ronta dan melawan, Calvin langsung mencekik lehernya hingga tewas. “Dari adegan reka ulang, pembunuhan tidak dilakukan dengan berencana,” katanya.

Setelah Farah tewas, Calvin memasukkan jasad resepsionis sebuah bank nasional itu ke boks plastik. Dia juga mengemasi barang-barang milik Farah dan dimasukkan kantong plastik. (Bacalah Tiga cara mudah booking artis cantik di hotel hanya di Infoheboh.com)

Jenazah Farah ditemukan dalam boks plastik di kolong jalan tol Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa, 12 Juli. Korban ditemukan terikat tali rafia dan lakban. Saat ditemukan, di dalam boks itu terdapat uang Rp 25 ribu dan surat beraksara Arab dan Latin serta tulisan “Mayang Farah”.

Penelusuran polisi mengarah kepada Calvin yang merupakan teman kencan Farah. Polisi mencokok Calvin di Apartemen Marina Mediterania Tower B lantai 27 Unit BJ, Pademangan, Jakarta Utara, Rabu, 13 Juli.

Penemu Farah

Petugas Tol JORR Pantai Indah Kapuk (PIK), Amirudin (33) merupakan orang yang pertama kali menemukan mayat Farah Nikmah Ridhallah dalam boks plastik. Jasad Farah yang jadi korban pembunuhan, dibuang dan ditemukan di kolong Tol JORR PIK KM 00, pada Selasa (12/7/2016) pukul 20.00 WIB.

Amirudin mengaku masih terbayang wajah Farah usai penemuan jasad tersebut. Dia mengaku dua kali bermimpi bertemu Farah. “Dua kali saya mimpi, dia nengok saya dan senyum sama saya,” ujar Amirudin kepada detikcom usai melakukan adegan reka ulang di Tol JORR PIK, Jakara Utara, Selasa (26/7/2016).

Amirudin biasa melakukan patroli pada malam hari di sekitar kolong Tol JORR itu. Mulanya ia mencium aroma tak sedap dan melihat hal yang aneh di samping pilar, kolong tol. Sebelum mengangkat boks, Amirudin memfoto temuannya dan melaporkan ke komandannya.

“Saya lihat ada boks, nggak saya hiraukan. Saya balik lagi kecium bau, saya foto saya kirim ke komandan saya,” jelas Amirudin.

Usai komandan dan petugas penjaga lain berdatangan, Amirudin langsung mengangkat boks plastik itu ke bahu jalan. Karena ngin tahu isi dalam boks yang beraroma menyengat itu, Amirudin menyobek plastik.

“Pas disobek sedikit keluar darah dari bawah. Kita nggak berani, langsung koordinasi dengan polisi,” imbuhnya.

Saat ditemukan, jasad Farah menurutnya dalam keadaan meringkuk. Dalam boks itu, Farah mengenakan baju kaus merah muda, blazer hitam dan celana krem.

Amirudin mengaku selama setahun bekerja, penemuan mayat ini bukan pertama kalinya di bawah kolong Tol PIK . Dia pernah menemukan jasad lain, namun tunawisma.

“Sering ketemu mayat, kebanyakan gembel yang sudah sakit. Tapi yang ini masih keinget terus, apalagi wilayah ini sepi,” tutupnya seperti diberitakan Detik.com Amirudin.