Berita lengkap ‘kisruh’ mahasiswa Papua di Jogja, susah cari kos

Tujuh mahasiswa asal Papua atau mahasiswa Papua ditangkap aparat kepolisian di beberapa tempat di Kota Yogyakarta. Ratusan aparat bahkan telah menutup akses asrama mahasiswa asal Papua yang terletak di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kapolres Kota Yogyakarta Kombes Tommy Wibisono mengatakan tindakan “pengamanan” itu dilakukan karena ada ‘keresahan di masyarakat’ bahwa ada kelompok yang ingin melakukan aksi mendukung ‘kemerdekaan Papua’.

Penangkapan terhadap mahasiswa Papua itu terpaksa dilakukan karena beberapa orang melakukan pemukulan kepada aparat ketika ditanya kelengkapan surat kendaraan bermotor di jalan. (BacaKronologi lengkap pembunuhan dan foto-foto seksi Farah Nikmah Ridhallah  hanya di Infoheboh.com)

“Kalau mereka tuntutan merdeka kan ada aturan pidananya,” ujarnya seperti diberitakan BBC Indonesia.

Sementara itu Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua, Aris Yeimo mengatakan bahwa polisi menghadang pintu depan dan pintu belakang asrama sejak pagi, sehingga sekitar 60-70 orang di dalam tidak bisa keluar. (Baca pula berita penting berjudul Mahasiswa Papua di Jogja kabur usai ngamuk hanya di Infoheboh.com)

Dia mengatakan tak mengetahui alasan pengepungan tersebut dan mengakui bahwa peristiwa serupa sering terjadi, bahkan bisa 4-5 kali dalam sebulan.

“Sebulan mungkin ada 4-5 kali. Sekarang kami tidak bisa melakukan apa-apa, mau makan dan minum saja susah,” ujar Aris seperti dikutip Kompas.

Lebih lanjut Aris mengaku Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua tidak terkait kegiatan dengan ‘aksi separatis’ yang dimaksud.

Kos-kosan tertutup untuk warga Papua
Dampak dari ulah sebagian oknum mahasiswa Papua itu sangat merugikan mahasiswa Papua di Jogja lainnya yang baik-baik saja. Salah satu yang terkena dampaknya adalah Benediktus Fatubun. Mahasiswa berusia 23 tahun asal Papua, terus berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain. Dia selalu berhenti di setiap rumah yang memasang tulisan ‘Menerima Kos Putra’ atau ‘Masih Ada Kamar Kosong’ di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (Lihat juga Foto-foto Winny Putri Lubis sedang mandi dan pose lainnya hanya di Infoheboh.com)

Sayangnya setiap ia mengetuk pintu, sang pemilik rumah selalu mengatakan kamar kos sudah penuh atau sudah tidak menerima kos.

Mahasiswa Papua yang biasa dipanggil Benfa ini tidak tahu pasti apa penyebabnya. Yang jelas dia yang sudah diterima menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi sampai sebulan tidak juga mendapatkan tempat kos.

Belakangan Benfa tahu, penolakan itu lantaran dia orang Papua. “Ada yang bilang, tidak menerima kos untuk anak Papua,” ceritanya, Jumat 1 Juli 2016 lalu.

Ini tidak hanya terjadi pada Benfa. “Saya juga ditolak gara-gara saya orang Papua,” kata Ruben Frasa (26), mahasiswa semester akhir salah satu kampus swasta di Yogyakarta.

Suatu hari, pelajar Papua yang lain diminta pergi dari halaman kampus oleh seorang dosen. Mahasiswi yang sedang duduk sambil merajut Noken itu dihampiri diminta pergi karena ‘dia orang Papua’. Testimoni mahasiswi yang tak ingin disebut namanya ini lantas dibagikan dalam sebuah unggahan Facebook, memicu perbincangan di dunia maya. (Lihat juga Foto-foto Natasha Wilona paling menyejukkan mata hanya di Infoheboh.com)

“Sampai sekarang, perlakuan diskriminatif dan rasis masih sering kami terima,” ujar Aris Yeimo.

Perbedaan perlakuan terhadap orang Papua tidak hanya terjadi di Yogyakarta tetapi juga di beberapa daerah lain termasuk di Jakarta.

Adapun salah satu yang berperan besar adalah pandangan umum yang menganggap orang Papua sering mabuk, suka melanggar peraturan, dan suka berkelahi. “Karena kenyataannya seperti itu,” kata Pedro Indharto (33), warga asli Yogyakarta.

Warga Yogyakarta lainnya, Sukma Indah Permana (28) mengaku kerap melihat orang Papua yang tidak patuh aturan lalu lintas, bahkan mereka kadang tiga orang naik motor tanpa memakai helm. “Aku sering lihat, loh,” ujarnya. (Lihat juga Foto terbaru Amel Alvi tanpa celana, balon kembarnya mecothot di Infoheboh.com)

Mereka mengakui tidak semua orang atau mahasiswa Papua seperti itu dan mengatakan banyak orang Papua berperilaku baik. Tetapi, ulah sebagian orang membuat stigma negatif menempel kuat.

Seorang pemilik kos-kosan yang ditanya mengapa dia tidak mau menerima orang Papua mengatakan dirinya memiliki pengalaman buruk. (Lihat pula Foto-foto Gebby Vesta tanpa busana bikin cleguk-cleguk di Infoheboh.com)

“Susah bayar, suka bikin gaduh suasana kos apalagi kalau pas mabuk,” ujar Nugroho (28), pengelola kos-kosan di Depok, Sleman. Sebagai pemilik bisnis, dia menginginkan pemasukan keuangan lancar dan tertib, sehingga mengaku “malas berususan dengan Papua karena tidak tertib dalam membayar”.

Perilaku segelintir orang Papua menjadi sebuah sterotipe di Yogyakarta, kata Aris Yeimo. “Biasanya (yang suka mabuk) adalah anak muda Papua yang baru datang karena ada emosi (budaya) yang terbawa dari Papua,” katanya.

Orang Papua yang tinggal di tempat dingin seperti di pegunungan, kata Aris, biasanya butuh penghangat sehingga terbiasa minum produk lokal untuk menghangatkan – sehingga ketika berada di Yogyakarta, perlu waktu untuk beradaptasi.

“Tapi kalau bikin onar dan makan tidak mau membayar, itu hanya beberapa orang, tidak semua. Jadi jangan digeneralisir,” imbuhnya.

Setiap tahun ajaran baru bisa dipastikan selalu ada merantau baru dari Papua ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Sampai sekarang, jumlah mereka yang tercatat ada 7.000 orang, menurut Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di sana – yang salah satu programnya juga memberi pengenalan kultural pada pelajar Papua yang baru datang ke Yogyakarta.

Bagi Emanuel Gobay (31), salah seorang warga Papua yang sudah 10 tahun tinggal di sana, masalah diskriminasi ini semakin kuat terasa dalam beberapa tahun terakhir dan tidak ada inisiatif dari pejabat daerah untuk mengatasinya.

“Banyak juga warga non Papua yang suka mabuk, membikin rusuh, dan suka melanggar peraturan lalu lintas. Tapi mengapa selalu kami?” tanya pria yang akrab di sapa Edo.

Apakah ini karena warna kulit?
“Ya jelas,” katanya. “Ketika mereka melihat saya berkulit hitam dan berambut keriting, mereka memberi alasan-alasan (menolak menerima anak kos).”

Mencari solusi bersama adalah jalan keluar yang terbaik, kata Edo yang juga aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta.

“Kehadiran mahasiswa Papua di Yogyakarta membawa pemasukan ekonomi pada warga dan pemerintah daerah. Jadi selayaknya kami diberikan perlindungan dari perilaku diskriminasi. Tidak perlu terpancing dengan isu-isu yang dibangun oleh pihak yang menginginkan kekacauan.”

“Bangun kenyamanan bersama, karena kehadiran mahasiswa memberi sumbangsih ekonomi, di sisi lain Yogyakarya juga memberi sumbangsih pada pelajar Papua khususnya dalam bidang pendidikan.”