Foto-foto Nonik Elvina Kalimba aduhai

Foto-foto Nonik Elvina Kalimba aduhai. Pertunjungkan musik dangdut Orkes Melayu atau OM Kalimba selalu bikin heboh di Boyolali, Jawa Tengah. Ribuan warga selalu antusias memadati tempat di mana orkes dangdut koplo beranggotakan biduwanita seksi dan montok itu pentas.

Apa itu Kalimba?
Menurut informasi yang kami peroleh, Kalimba sebenarnya adalah sebuah alat musik perkusi. Merupakan versi modern dari alat musik mbira dari Afrika bagian selatan. Terdiri dari sebuah kotak suara dengan tuts-tuts logam yang menempel ke bagian atas untuk memberikan not-not berbeda. Nama lainnya adalah “piano jempol” a la Afrika.

Hingga kini belum diketahui mengapa orkes ini menggunakan nama tersebut, padahal para penyanyinya berkulit putih dan mulus, berbeda dengan orang Afrika pada umumnya.

Loading...

Menurut informasi yang beredar fi Facebook, OM ini beranggotakan pula biduwanita Rezha Ocha, Riyana Macan Cilik, Risa Susanti dan Nonik Elvina.

Nah, si Nonik inilah salah satu vokalis andal OM Kalimba yang cantik, pahanya putih mulus, dan balon kembarnya lumayan montok dan kimplah-kimplah.

Nah, ini dia foto-fotonya:

nonik elvina paha mulus 1 nonik elvina paha mulus 2 nonik elvina paha mulus 3 nonik elvina paha mulus 4 nonik elvina paha mulus 5 nonik elvina paha mulus 6 nonik elvina paha mulus 7 nonik elvina paha mulus 8 nonik elvina paha mulus 10

Sejarah dangdut Koplo

Musik koplo atau dikenal juga Dangdut koplo adalah sebuah sub aliran dalam musik Dangdut. Dengan ciri khas irama yang menghentak dari gendangnya. Aliran ini dipopulerkan oleh grup musik orkes melayu atau yang biasa disingkat dengan OM. Grup musik ini merajai pentas panggung rakyat terutama di pulau Jawa, lebih spesifik lagi di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah bahkan Jawa Barat.

Pada era tahun 2000-an seiring dengan kejenuhan musik dangdut yang asli, maka di awal era ini musisi di wilayah Jawa Timur di daerah pesisir Pantura mulai mengembangkan jenis musik dangdut baru yang disebut dengan musik koplo. Musik koplo merupakan mutasi dari musik dangdut setelah era Congdut (Dangdut Campursari) yang bertambah kental irama tradisionalnya ditambah dengan masuknya unsur seni musik kendang kempul yang merupakan seni musik dari daerah Banyuwangi (Jawa Timur) dan irama tradisional lainya seperti jaranan dan gamelan.

Dangdut Koplo lahir di Indonesia lahir sejak tahun 2000 yang dipromotori oleh kelompok-kelompok musik Jawa Timur. Namun saat itu masih belum menasional seperti sekarang ini. 2 tahun kemudian, variasi atau cabang baru bagi musik Dangdut ini semakin fenomenal, setelah area ‘kekuasaannya’ meluas ke beberapa wilayah seperti di Yogya dan beberapa kota di Jawa Tengah lainnya. Salah satu hal yang membuat genre ini sukses dalam memperlebar daerah ‘kekuasannya’ adalah vcd bajakan yang begitu mudah dan murah didapatkan masyarakat sebagai ‘alternatif’ hiburan masyarakat dari vcd/dvd original artis-artis/selebriti nasional yang dinilai mahal. Kesuksesan vcd bajakan tersebut juga dibarengi dengan fenomena “goyang ngebor” Inul Daratista.

Fenomena itulah yang sebenarnya membuat popularitas Dangdut Koplo semakin meningkat di se-antero Indonesia. Apalagi setelah goyang ngebor inul itu tercium oleh beberapa media-media televisi swasta nasional. Oleh karenanya, masyarakat Indonesia semakin mengenal Dangdut Koplo dan juga Inul itu sendiri.

Tapi, fenomena itu bukan berarti tak ada masalah. Sang Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama adalah seniman Dangdut senior pertama yang nyata-nyata menentang Inul karena goyang ngebornya itu. Munculnya Inul dengan ciri goyangan tersendiri itu ditentang Rhoma karena berbau pornografi yang mengakibatkan dekadensi moral. Tak hanya itu, sang Raja juga khawatir jika hal ini dibiarkan saja, akan tumbuh-tumbuh goyangan porno model lain yang dilakukan penyanyi-penyanyi di daerah untuk ikut-ikutan ‘mengekor’ si ratu goyang ngebor itu.

Penentangan Rhoma terhadap aksi Inul dan beberapa tokoh dangdut lain ternyata mendapat ‘sambutan’ dari para pembela Inul. Baik itu masyarakat umum atau seniman-seniman Indonesia lain (dan bahkan melibatkan pakar hukum). Sejak itulah pro-kontra terhadap Inul menjadi headline news di media-media di Indonesia dan bahkan beberapa media-media Internasional seperti BBC News.

Pro-kontra dan kontroversi itu ternyata semakin mempopulerkan Inul itu sendiri, Dangdut Koplo dan artis-artis Dangdut lain. Benar kata sang Raja, karena munculnya Inul tersebut diikuti oleh munculnya artis-artis pendatang baru yang juga membawa identitas goyangan, seperti goyang ngecor ala Uut Permatasari dan Goyang patah-patah ala Anisa Bahar. Hal tersebut membuat sang Raja dan para penentang lain semakin sedih. Munculnya artis atau penyanyi Dangut baru karena kontroversi itu juga semakin mempopulerkan Dangdut Koplo. Berturut-turut setelah Uut dan Anisa Bahar, muncul nama lain seperti Dewi Persik, Julia Perez, Shinta Jojo waktu itu.

Di sisi lain, Dangdut sedang berbenah melalui Konggres PAMMI untuk memilih calon ketua baru. Dalam kesempatan itu, Rhoma kembali terpilih sebagai ketua PAMMI. Salah satu pernyataan yang cukup menghebohkan juga adalah bahwa Rhoma secara terang-terangan melarang dan menggunakan embel-embel Dangdut karena telah menyimpang dari pakem Dangdut sehingga seharusnya aliran tersebut berdiri sendiri. Salah satu alasannya yang populer adalah karena Dangdut Koplo melahirkan penyanyi Dangdut dengan goyangan erotis dan penampilan vulgar.

Sayang, pernyataan dia seperti tak pernah didengarkan oleh para pelaku Dangdut terutama penyanyi. Justru hal itu seolah semakin mengeksiskan Dangdut Koplo itu sendiri disamping produktifitas Dangdut non koplo yang sepi dan kalah bersaing dengan peredaran vcd/dvd bajakan yang semakin meluas. Di sisi lain, penyanyi pendatang baru juga semakin membludak, baik itu yang bersifat lokal atau nasional, begitu juga dengan grup-grup Dangdut koplo juga semakin banyak, ata grup yang tadinya beraliran klasik atau rock Dangdut, berganti haluan menjadi Dangdut koplo.

Mungkin masyarakat Indonesia sudah banyak yang tahu artis-artis pendatang seperti Ayu Ting Ting, Siti Badriah, Zaskia Gotik, Trio Macan, Wika Salim, Melinda dan sebagainya, atau grup Dangdut Koplo Jawa timuran yang semakin populer di Indonesia. Itu semua justru terjadi karena kontroversi-kontroversi tersebut.

Loading...
loading...