Foto-foto terlengkap Rania Salsabila, anak Nil Maizar ukuran besar

Nil MaizarĀ gagal membawa Semen Padang meraih gelar Piala Jenderal Sudirman. Kecewa sih kecewa, tapi ya itu, kekecewaannya bisa jadi tak akan berlarut-larut, apalagi saat ia kembali berkumpul bersama keluarga tercintanya. Khususnya si cantik Rania Salsabila, anaknya.

Sekadar ingatan info bahwa Semen Padang gagal meraih trofi setelah di laga final kalah 1-2 melawan Mitra Kukar. Meskipun sempat unggul lebih dahulu lewat gol sundulan Adi Nugroho, Naga Mekes justru mampu membalikkan skor lewat gol dari ‘harakiri’ Mohamadou Alhaji dan Yogi Rahadian.

Nil Maizar pun kecewa. Ya, jelas kecewa, tapi apa ya akan kecewa terus-terusan? Tidaklah, karena yang paling penting adalah bagaimana orang-orang terdekatnya, tetap memberikan dukungan kepada dirinya. Dan beruntung, Nil Maizar dikaruniai tiga bidadari cantik yang selalu ada untuknya. Sang istri yang bernama Mairosra serta kedua putri Medina Amanda dan Rania Salsabila selalu memberikan dukungan dan senyum untuk pelatih kelahiran Payakumbuh, 2 Januari 1970 silam itu. Bahkan putri bungsu Nilmaizar, Rania Salsabila sempat menarik perhatian publik karena kecantikannya dan bagaimana ia mendukung ayahnya lewat akun instagram pribadi miliknya, @chaarania.

Loading...

Nah, ini dia foto-foto terlengkap Rania Salsabila yang dikutip dari akun Instagramnya dengan ukuran yang begitu besar :

 

rania salsabila 13 rania salsabila 14 rania salsabila 15 rania salsabila 16 rania salsabila7 rania salsabila8 rania salsabila9 rania salsabila 1 rania salsabila 2 rania salsabila 3 rania salsabila 4 rania salsabila 5 rania salsabila 6 rania salsabila 10 rania salsabila 11 rania salsabila 12rania salsabila 18 rania salsabila 19

Profil ayah

Nil Maizar lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 2 Januari 1970. Ia merupakan mantan pemain belakang Semen Padang FC dan juga pernah menjadi pelatih tim nasional sepak bola Indonesia.

Ia memulai kariernya di klub kampung halamannya, Persepak Payakumbuh, di usia 10 tahun pada 1980. Enam tahun kemudian, ia bergabung dengan Diklat Padang, tetapi hanya setahun kemudian, ia terpilih ke Diklat Ragunan.

Nil merupakan anggota tim nasional Indonesia Garuda II pada periode 1989-1991. Pada tahun 1990, Nil sempat merasakan magang di klub elite Sparta Prague di Republik Ceko. Selama enam bulan berada di klub tersebut, Nil bersama rekannya di timnas, Agus Yuwono, tampil di kompetisi kasta kedua. Ia ditangani oleh pelatih legendaris Ceko, Josef Masopust.

Setelah kembali dari Ceko, Nil bermain di Semen Padang selama lima tahun (1992-1997). Ia ikut serta dalam skuat Kabau Sirah yang memenangi Piala Galatama pada 21 Juli 1992, mengalahkan Arema Malang dengan skor 1-0. Ia kemudian dua tahun bermain untuk PSP Padang sebelum memutuskan pensiun pada 1999.

Sambil menekuni sepak bola sebagai profesinya, Nil juga tercatat sebagai mahasiswa Universitas Ekasakti Padang pada 1992 sampai 1999, dimana ia meraih gelar sarjana ekonomi.[

Prestasi Nil di Padang menarik perhatian PSSI. Kebetulan, posisi pelatih kepala tim nasional sepak bola Indonesia masih belum jelas seiring pemecatan Alfred Riedl dan desakan timnas U23 untuk menarik Aji Santoso, caretaker pelatih tim senior, ke tim mereka. Akhirnya, PSSI lewat koordinator tim nasional Bob Hippy resmi menetapkan Nil sebagai pelatih tim nasional Indonesia pada 13 April 2012. Ia didampingi oleh Fabio Oliveira, staf pelatih Persija IPL. Sementara itu, posisinya sebagai pelatih kepala Semen Padang digantikan oleh direktur teknik Suhatman Imam.Ia sempat berjanji kepada publik Padang untuk kembali melatih Kabau Sirah.

Turnamen pertama Nil sebagai pelatih timnas adalah Piala Internasional Palestina 2012 pada Mei 2012. Indonesia tergabung dalam grup B bersama Mauritania dan Kurdistan, dan PSSI menggelar pemusatan latihan pada akhir April. Nil terpaksa meninggalkan pelatnas di Yogyakarta untuk mengikuti kursus kepelatihan yang digelar oleh Asosiasi Sepak Bola Jerman dari tanggal 23 April sampai 12 Mei di Koeln. Pelatnas diserahkan kepada asistennya Oliveira, dan Nil sendiri baru bisa menyusul timnas ke Palestina pada 12 Mei. Hasil yang diraih tim cukup baik, dimana Mauritania berhasil dikalahkan 2-0, tetapi tertahan imbang 1-1 oleh Kurdistan. Di semifinal, Indonesia dikalahkan tuan rumah Palestina 2-1.

Ia memimpin tim nasional langsung di Piala SCTV, meskipun takluk 2-0 dari Korea Utara pada 10 September 2012 di Gelora Bung Tomo, Surabaya.
Piala AFF 2012

Saat konflik dualisme di internal PSSI semakin meruncing, Nil tetap bersama tim yang ia persiapkan untuk Piala AFF 2012 di Malaysia. Usahanya untuk memanggil beberapa pemain kunci yang berlaga di Liga Super gagal, karena liga tersebut, yang notabene dibawah kontrol Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia, melarang pemainnya bergabung dengan tim nasional. Meskipun begitu, PSSI tetap bersikeras mendaftarkan enam pemain ISL, meskipun keenam nama tersebut tidak pernah berangkat.

Meskipun disertai kritik keras publik, alhasil, Nil hanya bisa membawa sederet pemain yang belum dikenal publik ke Malaysia. Notabene hanya Irfan Bachdim, Andik Vermansyah dan Bambang Pamungkas yang ada di tim tersebut. Sisanya Nil memanggil beberapa pemain yang dinaturalisasi seperti Tony Cussel dan Jhonny van Beukering, serta Arthur Irawan yang bermain di Espanyol.

Indonesia hanya berhasil menduduki peringkat ketiga Grup B, setelah mengantongi empat poin dari tiga laga (menahan imbang Laos, mengalahkan Singapura tetapi ditaklukkan Malaysia), otomatis gagal melaju ke fase berikutnya.

Pada awal Februari 2013, PSSI resmi menggaet pelatih asal Argentina, Luis Manuel Blanco sebagai pelatih kepala tim nasional, lewat mekanisme g-to-g antara kedua negara. Otomatis posisi Nil (dan Aji Santoso selaku pelatih tim U23) dikabarkan akan tergusur. Meskipun sempat dianulir Djohar Arifin Husin sendiri selaku ketua PSSI, Nil dan asistennya resmi dipecat pada 27 Februari, bersama sekretaris jenderal Halim Mahfudz. Nil sempat menyatakan memasrahkan urusan tersebut kepada PSSI, meskipun kontraknya masih ada sampai 2016, tetapi ia tetap meminta PSSI menyelesaikan kewajibannya untuk membayar gajinya yang tertunggak. PSSI akhirnya baru menunaikan kewajiban tersebut pada 19 April.
Putra Samarinda

Setelah memutuskan berhenti dari dunia politik, pada 2014 Nil Maizar kembali melatih dan menjadi pelatih Putra Samarinda sejak putaran ke-2 Liga hingga Oktober 2014 untuk menggantikan Mundari Karya yang mengundurkan diri.
Politik

Setelah dipecat dari tim nasional, Nil memutuskan maju sebagai calon legislatif Dewan Perwakilan Rakyat pada pemilihan umum legislatif Indonesia 2014 lewat Nasional Demokrat. Ia akan bertanding di daerah pemilihan Sumatera Barat II. Meskipun begitu, Nil menyatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan sepak bola, dan menyebut pencalonannya sebagai anggota DPR adalah sebuah “panggilan jiwa”. Namun karir politiknya tak berlangsung lama, pada 2014 ia kembali menjadi pelatih klub Putra Samarinda

Loading...
loading...