Gelombang panas, muslim di Pakistan boleh tak puasa

Mufti Muhammad Naeem mengeluarkan fatwa yang membolehkan warga muslim membatalkan puasa saat Ramadan ini. Fatwa itu terpaksa dikeluarkan lantaran di negara itu sedang diterpa badai ganas gelombang panas yang sampai kini korbannya mencapai 1000 orang.

Mufti asal Karachi itu menyatakan warga boleh berbuka jika nyawanya memang terancam.

“Jika dokter ahli mengatakan nyawa Anda terancam akibat hawa panas, maka kalian boleh membatalkan puasa,” kata Naeem kepada stasiun televisi NBC News. “Fatwa ni berlaku kondisional tergantung kondisi medis seseorang, bukan untuk semua kalangan,” ungkap Naeem sebagaimana dilansir International Business Times, Rabu (24/6).

Loading...

Meskipun demikian, Naeem membantah fatwanya akan menimbulkan kontroversi.

“Ketika nyawa terancam, saat tubuh kita butuh asupan makanan, maka syariat membolehkan kita makan, bahkan jika harus makan babi,” kata dia. “Jadi jika Anda diabetes atau dehidrasi maka Anda tidak harus berpuasa.”

Korban tewas akibat gelombang panas terbanyak terjadi di Karachi, kota dengan penduduk sekitar 20 juta jiwa. Dua kamar mayat di kota itu sudah menerima lebih dari 400 jenazah dan sudah melebihi kapasitas.

Korban tewas akibat serangan gelombang panas selama empat hari terakhir di beberapa wilayah Pakistan sudah mencapai angka 1.000 orang.

Ancaman korban lanjutan masih akan terus berlanjut mengingat suhu di beberapa hari terakhir sempat mencapai 45 derajat celcius di wilayah tertentu.

Diberitakan Al Jazeera, Rabu (24/6/2015) waktu setempat, suhu tinggi yang pernah tercatat sejak Sabtu mulai 43 derajat Celsius sejak Sabtu yang disertai dengan kelembaban tinggi.

Suhu maksimum yang terdaftar di Karachi pada hari Selasa adalah 41C, sementara kota-kota lain di provinsi ini seperti Sukkur, Jacobabad, dan Larkana, mencapai angka 45C, 44c dan 43C.

Kondisi suhu panas itu terjadi berbarengan dengan umat Muslim di Pakistan yang sebagian besar sedang menunaikan ibadah puasa pada siang hari.

Dari data pemerintah setempat, pada akhir pekan lalu tercatat sudah 775 orang telah meninggal karena serangan panas, dehidrasi atau penyakit yang berhubungan dengan panas di Karachi, yang jadi kota terbesar di negara itu.

“Mayat seperti ‘meluap’, mereka harus menumpuk tubuh satu di atas yang lain,” kata Dr Seemin Jamali, Seorang Pejabat Senior di Jinnah Postgraduate Medical Centre (JPMC), dari rumah sakit pemerintah terbesar.

Loading...
loading...