Inilah ruang bawah tanah tempat drakula ditahan

benteng penahanan drakula. (NewsCOm)

Apa yang ada dalam benak Anda jika mendengar nama drakula. Pasti ngeri bukan?


Sebuah proyek restorasi di sebuah bangunan kuno, Kastil Tokat di Turki menghasilkan temuan menarik. Para arkeolog menemukan ruang bawah tanah yang pernah menjadi tempat penahanan Pangeran Wallachian, Vlad III: sang Drakula.

Ia sempat menjadi tawanan Kesultanan Ottoman Turki pada awal Abad ke-15.

Hurriyet Daily News mengabarkan, proyek perbaikan yang dimulai tahun 2009 juga menemukan terowongan rahasia yang mengarah ke pemandian ala Romawi Pervane Bath dan barak militer.

Loading...

“Benteng ini dikelilingi oleh terowongan rahasia. Sangat misterius, “kata arkeolog Ibrahim Cetin, yang terlibat dalam proyek ekskavasi seperti dikutip dari News.com.au, Senin (29/9/2014).

Cetin menambahkan, Drakula pernah menjadi tawanan di salah satu ruang bawah tanah yang ditemukan.

Namun,” sulit untuk memperkirakan di mana persisnya Drakula ditahan, tapi dia pernah di sini,” kata Cetin.

Sebelumnya, pekerja di kastil menemukan sebuah terowongan sepanjang 100 meter di fasad utara, yang disebut-sebut digunakan oleh putri raja untuk mencapai pemandian ala Romawi dekat benteng.

Lantas, apa hubungannya Pangeran Vlad III dengan Drakula, setan yang gemar menghisap darah korbannya?

Vlad III punya reputasi bengis sebagai Vlad the Impaler. Si penyula. Penyulaan adalah cara penyiksaan yang amat kejam. Menggunakan kayu sebesar lengan yang ujungnya dilancipkan.

Alkisah, untuk mengkonsolidasikan kekuasan, Vlad mengundang ratusan bangsawan, menikam mereka hingga tewas, lalu jasadnya disula. Puluhan pedagang Saxon di Kronstadt, yang pernah bersekutu dengan para bangsawan juga dihabisi dengan cara yang sama pada 1459.

Vlad III lahir pada 1431 di Transylvania, kawasan pegunungan di Romania. Ayahya adalah Vlad II Dracul, penguasa Wallachia, kerajaan di selatan Transylvania. Dracul adalah gelar yang berarti ‘naga’, berkat keterlibatannya di Order of the Dragon.

Saat masih muda, Vlad III sempat ditawan Kekaisaran Ottoman di Turki. Selama itu, ia dan adiknya diajari berbagai ilmu pengetahuan, filsafat dan seni. Vlad juga menjadi penunggang kuda dan prajurit yang terampil. Ada juga laporan yang menyebut ia ditahan dan disiksa.

Vlad III kemudian melawan balik Ottoman. Suatu hari di tahun 1462, ia menulis pada sekutu militernya. “Aku membunuh petani, pria, wanita, orang tua dan mereka yang masih muda, mereka yang tinggal di Oblucitza dan Novoselo, di mana Danube mengalir menuju laut….. Kami membunuh 23.884 orang Turki, tak termasuk mereka yang tewas saat rumahnya dibakar atau yang kepalanya dipenggal oleh tentara kami. Jadi Yang Mulia, Anda harus tahu bahwa saya telah melanggar perdamaian,” tulis dia, seperti Liputan6.com kutip dari situs LiveScience, 1 Oktober 2013.

Tangannya yang berlumuran darah membuatnya punya reputasi gelap. Ia konon tega menggelar pesta makan malam di antara tubuh tentara lawan yang disuka. Bahkan ada yang menyebut, ia melahap roti yang dicelup ke darah para korbannya. Dua cerita itu belum tentu benar, namun kesadisannya yang kelewat batas menyebar seantero Eropa.

Total, Vlad dan pasukannya membunuh 80 ribu orang dengan berbagai cara, termasuk 20 ribu disula dan dipamerkan di luar Kota Targoviste. Hidup Vlad berakhir 1476, saat ia dikepung, terdesak, dan akhirnya tewas. Kepalanya yang dikirim ke Mehmed II dipamerkan di gerbang Kota Konstatinopel.

Kisahnya abadi lewat novel ‘Dracula’ karya Bram Stoker. Sebagai inspirasi tokoh Drakula.

Loading...
loading...