Kisah mualaf ganteng Morten Abrahamsen Ibrahim

Semula pria ganteng bernama Morten Abrahamsen Ibrahim (23) warga Hamar, Norwegia meragukan agama, bahkan keberadaan Tuhan. Namun, sebuah peristiwa pembantaian menyebabkan si ganteng ini akhirnya mempercayai adanya Tuhan dan memeluk Islam.

Si ganteng ini menjadi mualaf tepatnya pada tahun 2011. Ia memilih Islam setelah berhasil bertahan hidup dari serangan pembunuhan besar-besaran yang terjadi di Pulau Utoya, Norwegia, pada 22 Juli 2011 lalu oleh kelompok pemuda ekstremis sayap kanan.

Abrahamsen mengaku mendapatkan pengalaman religius kala itu. Saat insiden penembakan yang mengerikan terjadi, Abrahamsen berusaha mati-matian menyembunyikan diri di toilet, dari penembak tunggal yaitu teroris Anders Behring Breivik. Saat insiden terjadi, Abrahamsen mendapati seorang gadis muslim yang mengatakan, “Apakah kita mesti berdoa bersama?”.

Loading...

Selain gadis muslim itu, dia mendapati seorang gadis non-muslim, seorang gadis atheis dan dirinya sendiri yang meragukan agama. Mereka berempat akhirnya berdoa bersama, dalam bahasa dan kepercayaan masing-masing. Gadis muslim keturunan Kenya itu lantas berdoa dalam bahasa Arab, yang lain berdoa dalam bahasa Norwegia. Abrahamsen mengaku tiba-tiba dia berkata, “Allahu Akbar”.

“Saya saat itu berpikir mungkin ada ‘sesuatu’ dengan ini,” tuturnya, seperti dilansir nrk.no.

Breivik kala itu telah membunuh 69 orang dalam acara perkemahan musim panas pemuda Partai Buruh yang juga dihadiri Abrahamsen. Breivik saat itu mengatakan tindakannya kejam namun diperlukan untuk menghentikan eksperimen multikultural Partai Buruh yang berkuasa dan menghentikan ‘invasi’ Muslim ke Norwegia dan Eropa.

Morten Abrahamsen Ibrahim. (NRK.No)

Morten Abrahamsen Ibrahim. (NRK.No)

Mereka berempat selamat dalam pembantaian itu dan meninggalkan Pulau Utoya.

“Sesaat setelah saya meninggalkan pulau, saya mulai bertanya, mengapa saya bertahan? Mengapa saya tidak tertembak sementara ada remaja lain yang tertembak hanya beberapa meter saja jaraknya dari saya,” kisahnya yang dikutip dari Detik.com.

Sebulan setelah insiden penembakan itu terjadi, Agustus 2011, Abrahamsen memutuskan menjadi mualaf. Sebelum memutuskan menjadi mualaf, Abrahamsen adalah seorang yang meragukan agama. Setelah kejadian penembakan itu, dia mempelajari beberapa agama dan merasakan bahwa salah satu di antaranya sesuai dengan dirinya.

“Islam masuk langsung ke dalam hati saya. Dan saya pikir itulah satu-satunya agama yang benar. Alasannya adalah bahwa Quran tidak pernah berubah. Tidak ada manusia yang memiliki pengaruh seperti Muhammad, semoga damai menyertainya. Itu (Islam) mengajarkan bagaimana seharusnya menjalani hidup, bagaimana menjelaskan segala sesuatu, seperti bagaimana menerima kematian, bahwa hidup ini menguji Anda, bahwa hidup ini tidaklah mudah,” papar Abrahamsen.

Saat memutuskan menjadi mualaf, Abrahamsen juga sempat menghadapi resistensi dari lingkungannya.

“Saya mengalami resistensi, juga secara terbuka, dari orang-orang yang berpikir bahwa saya rentan dan telah dipaksa untuk berpindah (agama),” kata Abrahamsen kepada Aftenposten yang ditulis newsinenglish.no edisi Senin, 8 Juni 2015.

Abrahamsen mengucapkan syahadat di hadapan perwakilan dari Islam Net, salah satu organisasi Islam di Oslo. Organisasi ini sebelumnya juga menimbulkan kontroversi di Oslo karena mengadakan konferensi yang menampilkan ulama muslim yang dinilai radikal, dengan memisahkan laki-laki dan perempuan yang hadir.

Abrahamsen mengaku menentang ekstremisme. Ia percaya bahwa Alquran memerintahkan mereka untuk mengikuti hukum di daerah yang umat muslim tinggali. Ia tak bisa menerima hukum syariah yang bisa memaksakan hukuman mati untuk hal-hal seperti perselingkuhan, homoseksualitas atau meninggalkan iman. Menurutnya, hukum syariah itu sendiri sering tidak dilakukan sebagaimana mestinya di tangan orang yang memiliki kekuasaan.

“Dan banyak yang tidak melaksanakan (hukum syariah) sebagaimana mestinya. Banyak orang yang mendapat kekuasaan sering membuat kesalahan,” tuturnya.

Setelah 4 tahun menjadi mualaf, Abrahamsen merasakan perkembangan positif pada dirinya.

“Sekarang sudah hampir empat tahun (sejak pembantaian dan pertobatannya) dan saya berkembang dengan agama saya,” kata Abrahamsen.

Kini, dirinya tak lagi minum alkohol. Dia mengaku sering minum alkohol bila menghadapi masalah, namun bukan alhoholik.

“Saya bukan alkoholik, tapi saya dulu sering minum (alkohol). Saya mulai minum bila saya memiliki hari yang buruk. Saya mungkin masih di jalan yang buruk, dan mungkin melakukan, mencoba beberapa hal konyol. Namun di Islam, saya menemukan kekuatan dalam Tuhan. Anda bisa menjadi diri Anda sendiri tanpa alkohol. Saya telah menjadi orang sangat kuat, yang bisa menangani kesulitan dengan lebih baik,” tuturnya.

“Saya telah menemukan rasa tenang yang saya cari,” tandas pria yang kini mengusahakan sesering mungkin membaca Alquran.

Loading...
loading...