Lagi ya, ini foto-foto terbaru siswi SMA corat-coret seragam sambil pamer paha putih

Corat-coret siswa-siswi setingkat SMA yang merayakan kelulusan masih saja ada. Kali ini kami hair yang yang terbaru yang terunggah di sosial media.

Di Indonesia, perayaan lulusan sekolah khususnya tingkat SMA sedari dulu nih memang terkenal lebay. Konon itu semenjak adanya pilok. Tak hanya corat-coret seragam, sebagian siswi SMA bahkan nekat-nekatnya pamer paha mulus.

Adapun foto ini diunggah di akun Facebook atas nama Sis Ka. Foto-foto itu diupload disertai caption yang berbunyi demikian :

Karuhun nu di gunung,, para dewa nu di kota.. Para penguasa jagat pramudita.. Dinas pendidikan.. MUI, PPI Pemerintah, Para Orang Tua… Jeung sajabana..
REK DI ARANTEP MORAL ANAK BANGSA..
‪#‎ZamanEdan‬..

Sebelumnya Baca juga:

 

 

Nah ini dia 20 foto-foto lengkap siswi SMA saat merayakan kelulusan sambil corat-coret seragam. Bahkan di antaranya sengaja pamer paha mulus. Foto ini dikutip dari berbagai sumber yang dipercaya oleh Infoheboh.com :

corat coret pamer susu cirat coret pamer paha 1

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 90

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 90

corat coret lulusan pamer paha mulus 2 corat coret lulusan pamer paha mulus 3 corat coret lulusan pamer paha mulus 6 corat coret lulusan pamer paha mulus 8 corat coret lulusan pamer paha mulus 9 corat coret lulusan pamer paha mulus 10 corat coret lulusan pamer paha mulus 11 corat coret lulusan pamer paha mulus 12 corat coret lulusan pamer paha mulus 14 corat coret ndemok susu corat coret pamer paha mulus tenan corat coret pamer pantat

Dan sekadar info tambahan, Ujian Nasional (UN) tingkat SMP/Mts berakhir serentak hari ini Rabu 11 Mei 2016 kemarin. Tiga hari berkutat mengerjakan soal ujian, peserta didik terlepas dari beban dan ketegangan usai mengikuti UN. Sudah menjadi tradisi kekinian, pelajar melakukan selebrasi dengan cara bergerombol turun ke jalan.

Selebrasi dengan cara hura-hura, konvoi di jalan dan coret-coret baju sudah jadi tradisi siswa meluapkan kegembiraan usai melaksanakan UN dan saat pengumuman kelulusan. Tidak jelas sejak kapan budaya seperti ini dilakukan anak sekolah mulai dari SD hingga SMA, yang pasti fenomena ini terjadi di berbagai daerah, termasuk di Jakarta.

Fenomena yang terjadi di berbagai kota dan dilakukan remaja-remaja ini bukan tanpa risiko. Konvoi di jalan, tanpa menggunakan helm pula jelas memicu terjadinya kecelakaan. Belum lagi pengendara lainnya yang merasa terganggu, mengumpat bahkan menghalau mereka. Dampak lainnya, tawuran antar-siswa.

Euforia yang dilakukan anak-anak sekolah ini semestinya dicegah sejak dini. Tak ada manfaat positif dari aktivitas mereka, sebaliknya justru lebih banyak dampak negatif. Belum hilang dalam ingatan kita ketika Sonya Depari, satu siswi SMA di Medan, memaki-maki polwan ketika dirazia saat konvoi. Persoalannya jadi panjang, Sonya pun stres karena dibully di dunia maya.

Aktivitas hura-hura tersebut sebetulnya bisa dicegah bila pihak sekolah tegas, serta orangtua murid menyadarkan dan mengarahkan perilaku anak-anak ke arah positif. Usia remaja adalah masa anak-anak mencari jati diri dan menunjukkan eksistensi mereka.

Lebih bermanfaat bila kegembiraan siswa diisi dengan kegiatan positif seperti mengadakan aktivitas sosial, doa bersama, pagelaran kesenian, bersepeda bersama dan lainnya. Kegiatan ini justru lebih bermakna. Peran sekolah dan orangtua amat menentukan dalam menghilangkan tradisi tak terpuji konvoi di jalan.