Mengenaskan, penambang pasir tertimpa longsoran tanah

Ampera Media

Longsor terjadi di Dusun Basaba, Desa Payudan Nangger, Kecamatan Guluk-Guluk, Senin (29/9/2014), sekitar pukul 07.30WIB. Seorang penambang pasir tewas akibat musibah itu.


Tragedi ini menimpa korban bernama Ruji (33), warga Dusun Lebilla, Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep. Korban yang sehari-harinya bekerja sebagai penambang pasir batu (sirtu) berangkat bekerja bersama dua orang temannya, yakni sopir pikap dan satu orang pekerja. Sekitar pukul 06.40 mereka tiba di lokasi galian sirtunya yang berbentuk seperti gua. Mereka langsung bekerja menaikkan sirtu ke dalam pikap.

Pada saat dua teman Ruji sedang berada di atas lokasi galian, dan ketika saat Ruji berada di dalam galian yang dalamnya sekitar 15 meter, tiba-tiba tanah batu yang ada di atasnya runtuh dan menimpa tubuhnya.  Akibatnya tubuh korban ambruk dan tertimbun tanah galian sirtu.

“Saya mendengar ada orang minta tolong, dan langsung saya ke lokasi. Ternyata dari tiga orang yang sehari-hari bekerja sebagai penambang sirtu tertimbun hidup-hidup,’’ ujar Moh Syafik (45), warga sekitar lokasi kejadian.

Loading...

Seperti yang diberitakan Tribun, warga sekitar langsung gotong royong berusaha menyingkirkan tanah yang menimbun tubuh korban. Namun karena longsoran sirtu yang sangat besar, maka warga baru bisa menemukan tubuh korban setelah sekitar 30 menit memindah longsoran sirtu. Dan korban tidak berhasil diselamatkan karena ditemukan sudah tidak bernyawa.

“Kami sudah dengan cepat menyingkirkan tanah urukan sirtu. Tapi apa daya korban ditemukan sudah tidak bernyawa,” ujarnya.

Saat ditemukan, kondisi korban mengalami luka lebam di sekujur tubuhnya, dan terlihat menghitam. Mayat korban lau dievakuasi ke rumah duka, dan diserahkan pada keluarganya untuk disemayamkan.

Sementara itu Polsek Guluk-Guluk tiba di lokasi kejadian setelah korban meninggal dibawa pulang. Polisi lalu memasang garis polisi sepanjang lokasi galian yang telah menelan korban jiwa itu.

Kapolsek Guluk-Guluk, AKP Rasyidi, saat dihubungi melalui telepon selulernya, mengaku belum bisa memberikan keterangan, pihaknya mengaku sedang rapat di Kecamatan. “ Maaf mas, saya masih rapat di Kecamatan,” jawabnya singkat.

Informasi dihimpun lokasi galian sirtu, milik Wafir (65), warga setempat, dan sudah tiga tahun dipergunakan untuk bahan bangunan. Sirtu dijual ke masyarakat yang membutuhkan, dengan harga Rp 35 ribu per pikap. “ Kalau di tempat harganya harganya cuma Rp 35 ribu per pikap tapi ketika tanah tersebut tiba di rumah pembeli atau pemesan, harganya mencapai Rp 80 – 90 ribu per pikap,” imbuh Mulyadi (45), warga setempat.

Loading...
loading...