Mie instan mengandung lilin? Ahh.. itu hanya mitos!!

Selama ini banyak orang mengira ada kandungan lilin dalam mi instan. Maka tidaklah heran jika banyak orang pula selalu membuang air rebusan mi instan sebelum disantap. Tahukah Anda bahwa kandungan lilin yang selama ini kita yakini terdapat di dalam mi instan ternyata hanya mitos.

Dari aromanya saja rebusan mi instan sudah begitu menggoda selera makan. Makanan kemasan siap saji ini dapat kita jumpai di mana-mana, bahkan warung kaki lima sekalipun. Salah satunya di warung Burjo (Bubur Kacang Ijo) khas Bandung, yang juga menyajikan mi instan dengan berbagai variasi menu, mi tante (tanpa telor), intel (indomie telur).

Makanan ini juga paling cocok disantap saat musim hujan, habis kehujanan atau saat camping di pegunungan.

Selama ini banyak orang percaya bahwa di dalam mi instan terdapat kandungan lilin yang berbahaya bagi kesehatan. Namun, ahli nutrisi Susan SPT, Msc mengatakan tidak demikian. Susan mengatakan, tidak benar jika dikatakan mi instan mengandung lilin.

Loading...

“Karena proses penggorengan dalam pembuatannya, maka kalau kita merebus mi airnya jadi keruh. Orang bilang itu karena lilin, padahal itu karena minyak dan karbohidrat, tepung-tepungnya keluar,” ujar Susan.

Bukan membuang lilin

mi instanLebih lanjut Susan juga menjelaskan bahwa mi instan dibuat dengan cara digoreng sampai kering sampai kadar airnya tidak ada lagi. Dengan digoreng itulah, mi instan jadi lebih tahan lama dari pada mi basah.

Karena proses penggorengan tersebut, mi instan mengandung kadar lemak cukup tinggi. Sehingga jika kita sering mengasup mi instan, apalagi ditambah nasi, akibatnya bisa kegemukan. Maka tidak ada salahnya juga membuang air sisa rebusan untuk membuang sebagian minyak yang ada di dalam mi instan.

“Sebenarnya kalau kita membuang air rebusan, itu berarti kita membuang sebagian minyak yang ada di dalam mi instan. Saat mi direbus, maka minyak dalam mi akan keluar,” kata Head of Nutrifood Research Center ini seperti dikutip Jawa Pos.

Waspada kandungan garam
Justru yang perlu diwaspadai dari mi instan adalah kandungan garamnya. Kandungan garam di mi instan cukup tinggi, yakni rata-rata mengandung 50-60 persen kebutuhan sodium sehari. padahal kita dianjurkan mengonsumsi garam tak lebih dari satu sendok teh perhari.

“Kandungan sodium mi instan rata-2 mengandung 50-60 persen kebutuhan sodium per hari,” katanya.

Pencernaan danĀ Pengawet TBHQ

Selain kandungan garam, yang juga tak kalah patut diketahui adalah mi instan tidak hancur dalam proses pencernaan berjam-jam. Mi instan yang juga termasuk mie ramen asal Jepang, tidak hancur selama dua jam proses pencernaan di dalam tubuh. Bentuk mi yang masih utuh memaksa saluran pencernaan manusia bekerja ekstra keras untuk memecah makanan tersebut. Jadi bayangkan saja anggota tubuh kita bekerja terlalu ekstra, pasti capek dan sakit bukan?

Jika mi instan tetap ada di dalam saluran pencernaan untuk waktu yang lama, akan sangat berdampak pada penyerapan nutrisi makanan lain. Selain itu, di dalam mi itu sendiri, tidak ada nutrisi yang bisa diserap tubuh. Sebaliknya, tubuh akan menyerap zat-zat aditif, termasuk zat beracun dari bahan pengawet, seperti tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ).

TBHQ sebagaimana dikutip Republika dari laman Mercola, merupakan bahan kimia yang sering disebut memiliki fungsi sebagai antioksidan. Hanya, TBHQ merupakan antioksidan yang berasal dari bahan kimia sintetis, bukan antioksidan alami. Zat ini berfungsi untuk mencegak oksidasi lemak dan minyak, sehingga dapat memperpanjang masa simpan makanan olahan, atau biasa disebut bahan pengawet.

TBHQ biasa digunakan di dalam makanan olahan instan. Tapi, bahan kimia tersebut juga bisa ditemukan di dalam bahan non-makanan, seperti pestisida, kosmetik, dan parfum, karena sifatnya yang bisa mengurangi tingkat penguapan.

Lima gram zat TBHQ dapat membahayakan tubuh manusia. Efek dari terlalu sering mengonsumsi TBHQ adalah mual disertai muntah, terjadi dering di telinga, mengigau, dan sesak napas.

Jangan lebih 2 kali dalam seminggu
Seseorang yang mengonsumsi mi instan lebih dari dua kali dalam seminggu berisiko mengalami gangguan metabolisme, yaitu gejala-gelaja tubuh seperti obesitas, tekanan darah tinggi, peningkatan kadar gula darah, dan kolesterol. Diketahui wanita 68 persen lebih berisiko dari pria.

Dr Braden Kuo dari Rumah Sakit Umum Massachusetts mengatakan, para konsumen mi instan memiliki asupan nutrisi lebih rendah, seperti protein, kalsium, fosfor, zat besi, kalium, vitamin A, niasin, dan vitamin C. Hal tersebut diperparah dengan ditemukannya zat Benzopyrene (zat penyebab kanker) di dalam sejumlah merk mi instan.

Selain itu, penyebab penyakit yang berasal dari mie instan lainnya adalah kandungan monosodium glutamat (MSG). MSG dapat menyebabkan disfungsi otak dan kerusakan berbagai organ. Selain itu, zat ini juga dapat menimbulkan sejumlah penyakit, seperti Alzheimer, Parkinson, dan bahkan penyakit kesulitan belajar.

Loading...
loading...