Nangis gero-gero, wanita ini semaput

ilustrasi pingsan. (Google Image)

Menangis terlalu kencang dan menjadi-jadi bisa mengakibatkan pingsan. Itulah yang dialami seorang ibu separuh baya di Semarang Jawa Tengah. Seperti inilah ceritanya.


Lobi Markas Polrestabes Semarang, Jawa Tengah pada Senin 10 November 2014 siang mendadak gaduh. Seorang wanita paruh baya membuat petugas karena ulahnya. Wanita tadi menangis kencang lalu jatuh pingsan.

Wanita tadi korban razia gelandangan dan pengemis di kawasan lampu lintas Tugu Muda, Semarang. Sejak diangkut ke dalam truk, wanita tadi merengek sambil menggendong anaknya yang masih kecil. “Bu’e, bu’e, bu’e.” Sang anak menangis.

Ia meyakinkan kepada petugas untuk tidak diangkut. “Pak jangan ditangkap. Anak saya ini masih sekolah,” ujar wanita itu sembari terus merengek. Tangisan wanita yang tidak membawa idenitas itu pada akhirnya tetap diangkut ke atas truk.

Loading...

Menurut Tribunnews.com, sepanjang perjalanan, wanita tadi dan anaknya berusia tiga tahun ini terus menangis. Saat tiba di Mapolrestabes Semarang, ibu dan anak tak mau turun, sampai harus dibujuk polisi wanita. Ketika turun, wanita tadi membuat heboh.

Setelah heboh dengan tangisan kencangnya, wanita tadi pingsan sehingga anggota polwan harus membawanya beserta si anak masuk ke dalam ruang penyidik untuk diistirahatkan.

Tak hanya mengamankan pengemis yang membawa anak, petugas juga merazia sedikitnya 10 gelandangan dan preman yang biasa mangkal di lapangan Simpang Lima. Tahu jadi buruan petugas, mereka lari tunggang langgang menjauh dari kejaran.

Mereka yang tertangkap akhirnya diangkut ke truk polisi dan digelandang ke Polrestabes Semarang. Sedikitnya 20 orang pengemis membawa anak dan preman yang diamankan oleh personil gabungan Sabhara dan Binmas Polrestabes Semarang.

Kapolrestabes Semarang Kombes Polisi Djihartono mengatakan, pihaknya menggelar operasi kali ini menyikapi laporan masyarakat bahwa anak kecil yang biasanya dibawa oleh pengemis merupakan anak yang disewakan.

Loading...
loading...