Pertemuan dan pesan-pesan terakhir Didi Petet

Aktor senior Didi Petet meninggal dunia Jumat, 15 Mei 2015, sekitar pukul 05.25 WIB di kediamannya di bilangan Ciputat, Tangerang. Menurut putrinya, Dayana, ayahnya meninggal setelah menunaikan ibadah salat subuh.


“Meninggalnya pagi tadi. Usai salat Subuh terus ayah ketiduran dan setelah itu ayah sudah tidak ada,” kata Dayana terisak.

Menurut Dayana, ayahnya sempat sakit asam lambung. Jenazah Didi Petet disemayamkan di rumah duka Jalan Bambu Apus, Kedaung Ciputat, Tangerang Selatan.

Sementara komedian Indro “Warkop” mengatakan,  mendiang Didi Petet baru saja kembali dari Milan, Italia untuk misi kebudayaan.

Loading...

“Iya (meninggal) jam 05.30 WIB. Dia baru datang dari acara kebudayaan di Milan,” kata Indro.

Karena alasan kesehatan, almarhum Didi  terpaksa dipulangkan ke Tanah Air lebih cepat. Apalagi, di Milan pemeran tokoh Bahar di sitkom Preman Pensiun tersebut sempat jatuh pingsan.

“Di sana, acara belum selesai dia kolaps. Menurut besan saya yang kebetulan ada di sana (Milan), saat kolaps wajah Didi terlihat menghitam. Kalau nggak salah waktu itu sedang bawakan acara. Dia memang yang bertanggung jawab, mungkin kecapean,” lanjut Indro.

Ditambahkan Indro, diduga akibat keletihan asam lambung almarhum naik kemudian menekan jantung. “Yang saya dengar asam lambungnya naik. Asam lambung naik itu kan bisa menekan jantung, atau mungkin saja dia memang kena serangan jantung. Ini masih belum jelas,” ujar Indro lagi.

Impian terakhir Didi Petet
Tak disangka World Expo Milano 2015 menjadi kiprah terakhir Didi Petet di dunia. Dalam ajang yang berlangsung Mei-Oktober 2015 ini, Didi Petet berperan selaku Ketua Koperasi Pelestarian Budaya Nusantara (KPBN) –organisasi yang punya andil membuat Indonesia terlibat di perhelatan itu.

Pada World Expo Milano 2015 itu, Indonesia mengusung tema ‘Stage of The World’ dan mempromosikan berbagai keunggulan anak negeri di bidang kreatif, perdagangan, pariwisata, sampai peluang investasi. Ada 146 negara selain Indonesia yang unjuk gigi di gelaran internasional itu.

“Ini sangat bagus untuk negara kita. Indonesia negara yang penting, bukan ecek-ecek,” kata Didi Petet dalam konferensi pers di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (17/3), sebelum berangkat ke Milan.

Ucapan Didi Petet itu sekaligus cita-citanya untuk Indonesia. Didi ingin tanah kelahirannya dipandang dunia tak sebelah mata. Menurut dia, banyak potensi bangsa yang selama ini belum diketahui dunia, dan karenanya layak ditunjukkan.

“Indonesia negara besar. Semua kita punya. Coba, apa yang tidak kita punya, dari mulai ikan di laut sampai hutan di darat. Target khusus di Milan: Merah Putih berkibar,” ujar Didi Petet, begitu bangga dengan negaranya.

Semangat Didi Petet itu menular ke pejabat pemerintah yang terlibat dalam World Expo Milano 2015. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengaku salut dengan Didi. Menurut dia, Didi ialah anak bangsa yang berpikir dan berbuat demi bangsa tanpa diminta. Didi, ujar Rahmat, selayaknya dicontoh generasi muda.

Lewat World Expo Milano, ujar Didi Petet saat itu, Indonesia juga ingin menjadi pusat pangan dan paru-paru dunia dalam perannya menjaga ekosistem.

“Semoga suksesnya penyelenggaraan ini berikut misi mulia yang dibawa Indonesia bisa menjadi kado manis bagi 70 tahun kemerdekaan Indonesia,” kata Didi.

Kini Didi Petet telah berpulang. Seluruh karyanya akan selalu dikenang. Doa dan harapannya agar Merah Putih berkibar di dunia, harus diwujudkan.

Kalimat untuk sahabat
Eppy Kusnandar masih ingat betul pertemuan terakhir dengan almarhum Didi Petet. Mereka bertemu dua hari yang lalu. “Ketemu terakhir 2 hari yang lalu. Waktu itu beliau tidak memperlihatkan rasa sakitnya,” ujar Eppy.

Bintang sinteron Preman Pensiun itu juga masih ingat betul kata-kata terakhir yang disampaikan almarhum. Didi sempat mengeluh sakit, namun secara halus dan membisikannya kepada Eppy.

“Kalau ketemu langsung memeluk saya dan membisikkan, Pi, aing geuring euy (Pi, saya sakit nih), berbicara dengan lemah lembut sekali. Itu kalimat terakhir,” katanya mengenang.

Eppy sempat tak percaya dengan kabar duka. Ia juga menyesal tidak menemani guru, sahabat juga idola saat menghembuskan nafas terakhirnya.

“Saya nggak nemenin. Saya nyuruh istirahat aja dulu Kang. Sekarang saya mau ke rumahnya, meski kaki saya kaku,” katanya lalu menangis.

Loading...
loading...