Prostitusi tersembunyi ala Tata Chubby, perlukah lokalisasi?

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali mewacanakan pembangunan lokalisasi di Ibu Kota. Ide ini sebenarnya pernah diungkapnya pada 2013 lalu tapi mendapat penolakan masi. Namun, kembali mencuat gara-gara adanya kasus pembunuhan terhadap Deudeuh Alfi Sahrin alias Tata Chubby di kos-kosan yang berada di kawasan “Vagina Street”, Tebet Utara, Jakarta Selatan.


Menanggapi wacana itu, pengamat Psikologi, Intan Erlita menyebut bahwa secara sosial, lokalisasi punya dua sisi mata uang. Ditentang, namun di sisi yang lain bisa mengatasi berbagai masalah maraknya prostitusi liar di tengah masyarakat.

“Seenggaknya kalau dilegalkan, maka akan terpantau dan terdata. Mereka bisa melakukan penyuluhan tentang berbagai macam bahaya, menurunkan angka resiko dan mudah mendata tentang penyakit. Segi sudut sosialnya, lebih mending dibuat lokalisasi, agar (prostitusi) tidak boleh di luar area itu. Kalau ada yang berani melakukan di luar yang resmi, diberikan hukuman yang seberat-beratnya,” kata dia seperti dikutip Okezone.com di Jakarta, Jumat 17 April 2015 kemarin.

Untuk menghadapi berbagai pihak yang menentang pembangunan lokalisasi, wanita yang sempat berprofesi sebagai model ini meminta kepada Ahok untuk bisa melakukan pendekatan dan sosialisasi dini tentang bahaya prostitusi liar.

Loading...

“Butuh pendekatan ke beberapa orang yang akan menolak adanya lokalisasi ini,” ungkapnya.

Intan juga berkomentar bahwa maraknya praktek prostitusi lewat media sosial adalah akibat dari penggunaan teknologi yang tak terkontrol, “Imbas negatif kemajuan teknologi. Makanya tentu harus didukung dengan pengawasan. Mau enggak mau harus lakukan penyaringan prostitusi online dan pengawaan tetap,” simpulnya.

Loading...
loading...