PSK Sarkem boleh layani pria hidung belang usai tarawih?

Sarkem. Begitulah nama tempat yang tanpa sengaja diingat ketika singgah di Yogyakarta, khususnya para kaum lelaki nongkrong di sekitaran Malioboro. Pasalnya itu adalah kawasan prostitusi di Kota Yogyakarta.

Lokalisasi Pasar Kembang Yogyakarta atau yang akrab disebut Sarkem akan tutup satu minggu selama bulan puasa. Penutupan tersebut hanya dilakukan pada satu minggu awal puasa.

Ketua RW 3 Sosrowijayan, Sarjono mengatakan, penutupan tersebut memang merupakan aturan yang dibuat oleh pemerintah sejak lama. Seminggu setelah itu barulah Sarkem buka seperti biasanya.

Loading...

“Selama bulan puasa akan tutup seminggu, aturannya begitu, itu tutupnya pas di awal puasa,” kata Sarjono pada wartawan seusai pengajian bersama antara PSK dengan warga, Selasa (9/6) malam.

Dia menjelaskan, biasanya pada bulan puasa banyak PSK yang pulang kampung. Meski demikian selalu ada yang masih tinggal dan baru pulang ketika mendekati lebaran.

“Ada yang tidak punya uang untuk mudik, ya tetap di sini sampai lebaran,” ungkapnya.

Selama bulan puasa ini para PSK yang tidak mudik dianjurkan untuk mengikuti salat tarawih. Hal tersebut sesuai dengan kesepakatan warga di sekitar lokalisasi.

“Sudah diumumkan saat pertemuan RW, yang tidak pulang dan beragama Islam dianjurkan ikut tarawih, kecuali memang sedang berhalangan,” tambahnya.

Selain itu aktivitas menerima pria hidung pun hanya diperbolehkan setelah tarawih selesai. Pada siang hingga malam sebelum tarawih, para PSK tidak diperbolehkan menerima tamu.

“Kalau ketahuan ada yang melanggar nanti ada sanksinya,” tandasnya.

Profil Sarkem

sarkemSarkem (singkatan dari Pasar Kembang) adalah tempat lokalisasi yang berada di Yogyakarta. Tempat ini terleteak di gang-gang sempit di belakang gedung pemerintahan menuju pinggiran rel kereta api barat Stasiun Tugu. Biasanya para PSK lokal yang berada disini berasal dari daerah Parangkusumo, Parangtritis dan Bantul. Sedangkan kebanyakan PSK berasal dari luar Yogyakarta, ada yang berasal dari Temanggung, Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Rembang, Kendal, Nganjuk, bahkan Jawa Timur dan Kalimantan. Begitu juga dengan induk semang alias mucikarinya, mereka datang dari Kudus, Magelang, Surabaya dan Bandung.

Loading...
loading...