Sate biawak, ekstrem kuliner yang bermanfaat bagi kesembuhan

Sate Biawak Bandung. (Bandung Bagus)

Anda lagi kena penyakit kulit atau gatal-gatal? Konon sakit ini bisa disembuhkan hanya dengan makan sate biawak.


Jika penderita penyakit hepatitis dan liver dapat disembuhkan dengan memakan daging kelinci, maka penderita gatal-gatal bolehlah memakan daging biawak. Obat tradisional Jawa ini cukup terkenal bagi mereka yang sudah merasakan khasiat menjajaki sate biawak dan kelinci.

Tak hanya bagi penderita penyakit, pecinta kuliner juga ingin menikmati daging biawak dan kelinci yang tergolong empuk dan lezat. Sebagian besar, penderita penyakit itu biasa memilih dengan hidangan tusukan sate panas kelinci dan biawak.

“Makan daging biawak memang menyembuhkan penyakit gatal-gatal kulit. Daging biawak mengandung minyak yang biasanya dijual botolan. Sedangkan daging kelinci untuk menyembuhkan penyakit liver (raut muka kuning) dan hepatitis,” ucap Bayu Agung Pribadi, salah satu pengunjung yang menderita penyakit gatal-gatal.

Loading...

Rumah Makan Sate Pak Nardi yang berada diperlintasan jalan raya Banyu Putih-Batang menyediakan aneka hidangan daging biawak-kelinci. Selain menyajikan tusukan daging sate panas kelinci dan biawak, juga menyajikan aneka menu seperti tongseng kuah dan swieke.

Rumah Makan yang membuka kuliner sudah 10 tahun lebih itu tiap hari dijajaki pengunjung dari mulai pukul 08.00-12.00 WIB. Mereka rela menunggu sembelihan kelinci dan biawak selama kurang lebih 1 jam untuk dihidangkan sesuai pilihan menu pengunjung.

Kastimah, pemilik warung yang dibantu empat orang pekerja mengaku merasa kewalahan melayani 300 pengunjung setiap hari. Dia setiap hari harus memotong kelinci sebanyak 30 ekor dan memotong daging biawak  sebanyak 10 ekor. Satu porsi sate biawak pengunjung cuma merogoh kocek Rp12 ribu, sate porsi sate kelinci pengunjung merogoh kocek Rp17 ribu.

“Satu porsi sate biawak isinya 10 tusuk sudah plus nasi dan air minum. Sedangkan satu porsi sate kelinci isinya 15 tusuk dengan tambahan yang sama. Awalnya berdagang sering dijajaki pengunjung yang menderita penyakit hepatisi, liver dan gulit gatal. Tapi lamban laun semakin dijajaki pengunjung yang suka makan kuliner daging kelinci dan biawak,” terang Kastimah seperti dikutip Aktual di Bayuputih-Batang, Senin (15/9).

Diberitakan Merdeka, dia setiap hari biasanya menghabiskan sekitar 30 kilogram daging biawak dan 50 kilogram daging kelinci. Rata-rata pengunjung minta dihidangkan tongseng kuah dan sate. Satu porsi tongseng biawak  berharga Rp10 ribu dan tongseng kelinci cuma merogoh kocek Rp17 ribu.

“Kebanyakan pengunjung minta disajikan tongseng dan sate, dari pada swieke kelinci dan biawak. Iya, semua menu itu selera lidah pengunjung,” imbuh dia.

Loading...
loading...